Tuesday, September 18, 2007

Masya Allah...

Malam Ramadhan, baru kali itu ana mimpi aneh...

Ana mimpi duduk bertiga sama temen akhwat dan seorang ikhwan.

Ikhwannya terlihat sangat nyata...

Tapi temen ana nggak tau siapa ^u^

Masa ana mimpi tangannya kepegang ikhwan?!?!

(Walau mimpi, ana masih inget untuk segera narik tangan biar ga kepegang lagi... ^o^)

Mana ikhwannya bilang “Neng, kalo ada masalah ceritain ya...”

Dan ana mimpi ana itu nangis...

Ana emang lagi ada masalah, tapi nggak darurat sampe harus cerita ke ikhwan...

Pas bangun sampe sekarang ngetik malemnya... (malem 17 September...)

Ana masih senyum-senyum, hehehe...

Dan alhamdulillah, rasanya beban di hati plooooong banget!

Alhamdulillah, qadarullah, ana nggak ketemu ikhwan benerannya...

;p

Ya Allah, walau ana nggak suka ikhwan itu, ana seneng udah mimpi kayak gitu dan dicukupkan untuk merasa senang dengan mimpi kayak gitu...

The point is feeling secure and cared...

Dan Engkau memberi hamba ketenangan dari jalan yang tidak pernah hamba sangka...

Ya Allah, hamba hanya minta yang terbaik untuk hamba...

Wednesday, September 12, 2007

No Searching by Ourselves

Kata UB (yang suka ngaji di Balairung Fahutan XXX pasti tau siapa UB)...

Akhwat itu jangan cari ikhwan sendiri, trus jangan mengharap seorang tertentu jadi pasangan hidup kita nanti...

---

Kalo gitu...

Tahun depan...

Insya Allah ana akan minta tolong lagi sama orang-orang yang ana percaya untuk cariin calon Abu Maryam...

^o^

Doain!

Monday, September 10, 2007

Rusak!

Subhanallah...
Waktu tugas bejibun...
Waktu butuh banget komputer...
Qadarullah wa maa syaa a fa'ala...

RUSAK...

Hiks...

I wonder why...

Doain ya...

Saturday, September 08, 2007

Lurus Saja!

MENYIKAPI PERANG SAUDARA

Ketika Ismail (3) sedang asyik bermain dengan mainan barunya, tiba-tiba Husna (2), adiknya, merebutnya dengan paksa. Ismail berusaha mempertahankan mainannya tetapi Husna pun tetap ngotot mencengkeramnya. Karena jengkel, sang kakak pun ambil jalan pintas dengan memukul adiknya keras-keras.

Ismail tentu tak bisa disalahkan bila mempertahankan mainannya sekuat tenaga. Sedangkan Husna pun, dalam kaca mata orang dewasa dianggap tak salah karena memang belum mengerti. Sifat egosentrisnya masih terlalu besar sehingga ingin memiliki barang apa saja yang mereka sukai. Akan tetapi di mata kakaknya (yang juga masih kecil), adiknya jelas-jelas salah karena merebut mainan miliknya. Anak sekecil Ismail belum paham terhadap sifat egosentris yang dimiliki adiknya, bahkan juga masih dimilikinya. Yang ia pahami bahwa mainan itu adalah miliknya dan ia berhak mempertahankannya.

Menghadapi hal tersebut, kadang ibu tak tahan dengan tangis adik, kemudian langsung menyuruh kakaknya mengalah. Kebijakan seperti itu jelas berat sebelah, karena kurang menghargai pola pikir kakak yang masih kecil juga.

Jika ibu memaksa kakak untuk selalu mengalah, banyak akibat negatif yang akan terjadi, seperti:

1. Kakak merasa dirinya tak memiliki harga diri di mata ibu.

2. Adik tak pernah belajar mengetahui hal yang benar.

3. Kakak menyimpan dendam pada adik dan membalasnya nanti jika ada kesempatan.

4. Jika terjadi perkelahian lagi, adik cenderung mengandalkan tangisnya untuk mengadu kepada ibu agar dibela.

Lalu, bagaimana tindakan yang seharusnya dilakukan oleh ibu/orang tua? Ibu yang bijaksana akan mencoba memahami pertengkaran ini dengan melihat persoalan dari kaca mata kedua pihak, yaitu dengan memahami bagaimana perasaan adik, juga perasaan kakak.

Beberapa hal yang bisa dilakukan di antaranya:

JANGAN SALAHKAN SATU PIHAK

Memang kakak bersalah karena memukul adiknya keras-keras, dan adik pun salah karena merebut mainan yang bukan miliknya. Karena itu, jangan hanya menyalahkan salah satu pihak. Jika ibu sedang emosi, lebih baik ibu menahan diri dengan diam. Jika tidak kuat diam, menyalahkan kedua pihak sekaligus masih lebih baik daripada hanya menyalahkan salah satunya.

Pertengkaran kakak dengan adiknya adalah satu perkembangan wajar, sesuai dengan fase perkembangan psikologis mereka. Sangat sulit untuk menemukan siapa sebenarnya yang menjadi biang keladi pertengkaran, karena semua merasa benar. Apalagi pola berpikir ibu, kakak, dan adik sangat berbeda, sesuai dengan fase perkembangan usia. Jadi arti kebenaran menurut kakak, adik, serta ibu pun kerap berbeda. Maka adalah sulit untuk menemukan siapa yang salah, dan tindakan itu pun tak perlu dilakukan.



JANGAN PAKSA KAKAK SELALU MENGALAH

Kakak juga masih kecil, maka pola berpikirnya yang menganggap adiknya salah pun harus dipahami. Tentu tak adil jika menyuruhnya untuk selalu mengalah. Hal itu akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan jiwanya, karena merasa tidak pernah mendapatkan keadilan.



HARGAI JIKA KAKAK BENAR

Kita tentu akan sakit hati, bila merasa benar tetapi disalahkan oleh orang lain. Sulit sekali menerima hal itu dengan lapang dada. Apalagi jika orang menyalahkan kita dengan cara memaksa. Karena itulah, ibu juga harus memahami, kakak pun mempunyai hak untuk mempertahankan mainannya. Perkara dia mau meminjamkan mainannya kepada adik, itu tergantung kebaikan hatinya.

Jangan menyalahkan kebenaran yang diyakini kakak, tetapi sentuhlah empati sang kakak untuk mau berbaik hati kepada adiknya. Kebenaran yang diyakini kakak harus ibu akui. Contohnya dengan berkomentar, “Sayang, kenapa merebut mainan kakak? Padahal kakak sedang asyik main lho! Kalau adik mau pinjam, bilang dulu sama kakak.”

Dengan penghargaan seperti itu, berarti ibu sudah menghormati harga diri sang kakak. Ini memiliki arti yang sangat besar pada psikologis kakak. Karena merasa dirinya dihargai, selanjutnya ia justru lebih mudah menerima pendapat orang lain, lebih mudah memahami perasaan adiknya, dan lebih lanjut akan tumbuh empatinya.

Sebaliknya, jika kebenaran yang diyakini kakak disalahkan oleh ibu, jangan harap kakak mau menerima kata-kata ibu selanjutnya. Apalagi kakak sedang dalam keadaan emosi. Karena merasa dirinya benar tetapi tidak diakui, kakak merasa perasaannya tidak dipahami, sehingga ia semakin jengkel. Kalaupun ia menurut untuk mengalah, itu ia lakukan dengan sangat terpaksa.



TUNJUKKAN KETIDAKMENGERTIAN ADIK

Jika ibu telah berhasil menghargai pendapat yang diyakini kakak, jangan lupa pula untuk menghargai pendapat yang diyakini adik. Kalau adik meyakini bahwa setiap barang yang ia sukai harus ia dapatkan, itu bukanlah pendapat yang salah untuk usianya. Jadi, ibu pun tak bisa serta merta menyalahkan adik.

Lebih baik ajaklah kakak untuk mau memahami ketidakmengertian adiknya tersebut. Ini akan mudah dilakukan jika emosi kakak sedikit mereda setelah ibu bisa menghargai perasaannya. Kepada kakak bisa diberi pengertian, “Adik kecil itu memang belum mengerti, Sayang. Ia selalu ingin merebut yang dia inginkan. Dulu waktu kamu masih kecil juga suka begitu. Kita nasihati saja dia pelan-pelan.”



TUMBUHKAN EMPATI KAKAK

Setelah emosi kakak mereda, dan ia menunjukkan tanda-tanda mau mendengar kata-kata ibu, barulah bisa disentuh perasaannya untuk menumbuhkan empati kepada adiknya.



HARGAI JIKA KAKAK MAU MENGALAH

Bila akhirnya kakak mau mengalah memberikan mainan kepada adiknya, orang tua hendaknya memahami bahwa pengorbanan kakak itu bukan suatu hal yang ringan. Bagi anak-anak, bisa mengalah walau dia merasa tak salah adalah kebaikan yang sangat sulit dilakukan, mengingat hingga usia balita rasa keakuan mereka masih cukup tinggi.

Sudah seharusnya ibu memberi penghargaan khusus kepada kakak jika ia berhasil melakukan kebaikan itu. Penghargaan itu bisa dengan ucapan, “Subhanallah, Kakak baik sekali. Pasti nanti Kakak banyak disukai teman.” Ibu bisa ajarkan pada adik untuk berterima kasih pada kakak. “Ayo Dik, katakan terima kasih pada Kakak, dia sudah berbaik hati pada kamu.” Bisa pula ibu memberi penghargaan lain berupa pelukan, ciuman, atau sebungkus wafer untuk kakak.

Adakalanya kakak mau mengalah pada adik tetapi masih dengan berat hati. Bibirnya cemberut, matanya memerah menahan tangis, dan ngeloyor pergi dengan kecewa. Dalam kondisi seperti ini mereka butuh ditemani. Butuh dipahami perasaannya. Maka sebaiknya ibu meluangkan waktu untuk menghibur kakak dulu. Ajak ia bicara baik-baik, beri perhatian, hibur hatinya hingga perasaan mereka bisa lebih enak.



BIASAKAN SEGERA BERMAAFAN

Lebih baik lagi, jika ibu membiasakan kakak dan adik untuk saling bermaafan. Ini bisa dilakukan jika emosi masing-masing telah mereda. Untuk bermaafan tak perlu diungkit-ungkit siapa yang salah. Yang penting tumbuhkan motivasi untuk minta maaf lebih dulu.



AJARKAN ADIK DAN KAKAK TENTANG KEKELIRUANNYA DI SAAT YANG TEPAT

Tak ada gunanya memberi nasihat sewaktu pertengkaran terjadi, di saat emosi sedang membara. Orang dewasa pun sulit menerima nasihat jika hati sedang emosi. Itu sebabnya, perlu dicari waktu yang tepat, yang enak dan santai untuk membicarakan kembali kesalahan-kesalahan yang sempat mereka lakukan saat bertengkar tadi.

Demikianlah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menyikapi ‘perang saudara’ antara adik dan kakak. Semoga bermanfaat.


Sumber: Mendidik dengan Cinta. Irawati Istadi, Pustaka Inti.

Taqdir Allah Selalu Baik

Alhamdulillah, kita semua telah sampai pada jalan ini, kebenaran yang tidak semua ketahui. Allah memudahkan kita untuk meyakini dan menggigit erat kebenaran ini. Semua ini anugrah yang sangat besar dari Allah, bagaimanapun jalan yang Allah taqdirkan untuk kita dalam mengenalnya...

Bukan kita saja yang mengetahui kebenaran manhaj ini,tapi kitalah yang diberikan hidayah oleh Allah untuk melaksanakan apa yang kita ketahui ini. Semua ini taqdir Allah. Dengan usaha kita sendiri niscaya perlu seribu tahun ke belakang untuk belajar Islam yang benar dan sungguh mustahil untuk bahkan mengembalikan 1 detik...

Semoga kita selalu bisa bersyukur dan mendoakan saudara kita agar bisa merasakan nikmat yang kita rasakan...

Satu lagi, jangan sombong dengan anugrah ini ya, whoever you are...

Jujur Saja

Jujur itu kadang menyakitkan. Tapi, kejujuran mengakhiri semua kebohongan...

Seorang teman pernah berkata, mana yang lebih membuat kita menyesal, mengatakan sesuatu atau tidak mengatakannya...

Tapi menyesal itu relatif. Tergantung apa yang mau atau sudah disampaikan. Jika itu kebenaran menurut Al Qur’an dan As Sunnah ‘ala fahmi salaf, jangan menyesal menyampaikannya. Kalo itu suatu kesalahan, mohonlah ampun pada Allah...

Allahu a’lam...

Berpikirlah Kawan…

Kadang ana bingung walau ana tau ana nggak perlu bingung. Mungkin ini bukan tulisan yang pertama, tapi mungkin juga yang pertama...

Hai kawan yang memilih jalan haroki sebagai jalan hidup, apa yang antum cari? Apa yang antum tuju? Apakah kami salafiyyun menjadi penghalang tujuan kalian?

Wahai kawan yang memilih jalan haroki sebagai jalan hidup, tahukan kalian apa esensi dakwah kami salafiyyun? Tauhid, ‘aqidah, dan apa-apa yang harus diketahui oleh seorang Muslim. Kami tidak memilih-milih berdasarkan ego kami, tapi inilah yang Rasul perintahkan untuk kami sampaikan... Mengapa kalian menghalangi jalan dakwah kami? Bukankan tujuan kalian dan kami sama?!

Kawan, darimana kalian tahu dakwah kami keras? Darimana kalian tahu cara dakwah kami berbeda? Sedangkan belum apa-apa kalian sudah memperingatkan orang awam, hati-hati dengan kami.

Masya Allah, ana tidak bisa mengerti... Mengapa ketika kami ingin memberitahu yang benar kepada awam, justru kami dikatai keras? Apakah kalian sudah introspeksi? Masya Allah...

Ana hanya ingin antum yang merasa seperti demikian, berpikir...

Kami ingin berdakwah tanpa diganggu. Ana tahu bahwa sunnatullah, jika ada yang menyeru kepada jalan kebenaran maka akan ada yang menghalangi. Tapi sungguh ana tidak mengira bahwa perhalang itu datang dari antum, yang pernah menjadi orang-orang yang ana sayangi...

Masya Allah... Ana khawatir kalian menjadi penghalang manusia dalam bertauhid... Ana khawatir... Wa illahiyuttaufiq...

Monday, September 03, 2007

Family and Consumer Sciences

Inilah departemen ana sekarang... Alhamdulillah, ternyata departemen yang umurnya baru 2 tahun ini di BoAgUn (Hehehe...) udah jadi barang lama di negara-negara maju.

Tapi ternyata, belajarnya nggak seasik kedengerannya... Emang sih umumnya ngurusin keluarga dan konsumen. Bahkan hari ini (Senin, 3 September) ana belajar berbagai cara untuk menemukan pasangan hidup dan metode comblang diakui sebagai salah satu metode yang efektif dan efisien... Hehehe... Tapi perlu keimanan dan ketaqwaan untuk menjalankan proses ini...

Doain aja ya ana bisa survive dan cepet lulus...

Ada yang kurang sreg dari departemen ini, terutama mata kuliah psikologi anak dan PEK (pengantar ekologi keluarga). Kalo PEK, ana nggak ngerti aja makanya nggak suka (Hoohoo...) Kalo psikologi anak karena ana paling nggak mau belajar sesuatu yang basicnya filsafat... (Filsafat = feeling saja [bisa] fatal -> karena manusia hidup harus pake petunjuk...)

Udah segini dulu

Tuesday, August 21, 2007

Maaf, Kita Belum Bisa Temenan

Welcome to my blog... Let’s check out the list of 6 personalities those I’m not able yet to make a friend with. In Indonesia aja ya...

1. Gila hormat: Siapa juga yang mau temenan sama orang gila... Selama situ hormati ana, Insya Allah ana juga menghormati situ...
2. Tukang boong: Boong itu dosa... Nyakitin... Nyebelin... Apa sih susahnya jujur?
3. Gengsian: Makan tu gengsi... Bikin hidup susah aja...
4. Gak Tau Malu: Maaf, lagi belajar untuk tau malu... Kalo ana temenan sama situ sama-sama gak ada progress dong...
5. Nggak percayaan: Silakan berteman dengan diri anda sendiri...
6. Curigaan: Bikin cape karena mau baik mau jahat sama aja dicurigain. Cape deh...

Hehe... Maap kalo ada yang kesindir. Itu mah bukan buat nyindir siapa-siapa. Lagian rata-rata orang juga nggak mau temenan sama orang kayak gini, apalagi semua berkumpul jadi 1 (orang gila hormat tapi tukang boong. Udah gitu gengsian, gak tau malu, nggak percayaan, curigaan, idup lagi ^o^)

Ana juga nulis ini untuk mengingatkan ana supaya nggak jadi seperti itu... Tanpa menafikan adanya kekurangan pada setiap orang...

Ayo kita semangat memperbaiki diri agar sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah 'ala fahmi salaf.

Saturday, August 18, 2007

Memperbaiki Kesalahan Tanpa Kesalahan

Kayak motto PEGADAIAN aja... Tapi nggak ada hubungannya koq, ini cuma sedikit curhatan dari masa lalu yang mungkin sampe sekarang masih terjadi, tapi alhamdulillah intensitasnya berkurang, secara temennya juga lebih baik ^u^

Waktu dulu baru mengenal Islam, wuiih, semangat banget dah! Kagak mau ngomong sama ikhwan, galak abis sama orang-orang, pengen pergi perang ke timur tengah, eh...tiba-tiba ditegur sama temen seliqo (dulu ana pernah liqo, tapi alhamdulillah sekarang udah bebas!) di depan temen yang lain... Seger banget dah!

Atau kalo lagi sensi (emang dasarnya sensi), trus lagi PMS, padahal sama-sama akhwat, tapi kalo ngingetin masya Allah, kayaknya demen banget nemuin kesalahan diri ana.

Saat itu, sebel banget ni hati! Gondok banget! Perasaan ni orang-orang ngingetin apa ngejatohin?! Yang nasehatin supaya nggak sensi nyatanya lebih sensi dari ana. Ada juga yang nasehatin jangan terlalu jaga hijab sama ikhwan (hah?! Annneeeh!)

Dari sini, ana cuma pengen nitip pesen, terutama buat ana sendiri dan umumnya buat yang baca blog ini.

Kalo ada temen kita berbuat salah, wong ya dilihat sebagai suatu ketergelinciran, bukan kesengajaan. Orang waras pasti akan nolongin orang yang tergelincir kan, bukan orang yang dianggap menjatuhkan diri sendiri...

Kalo seorang temen melakukan kesalahan, tinjau lagi apa bener dia salah apa cuma nggak sesuai dengan standar ideal temen untuk kita? Apakah justru kita yang ingin temen kita jadi apa yang kita mau? Apakah kesalahannya juga menyalahi Al Qur’an dan As Sunnah? Kalo nggak, lebih baik dilihat dulu adakah dari diri teman kita itu yang lebih penting, kesalahan yang lebih besar (yaitu dosa-dosa besar seperti syirik dan sebagainya) yang masih dia perbuat?

Temen sejati harusnya nggak membiarkan temennya tergelincir terus menerus, tapi juga tidak menjadikan seorang teman sebuah objek yang harus menjadi seperti apa yang dia kehendaki.

Upset and Setup

Upset and setup…
They are so different…
“Upset” shows the feeling when something we expected is not happened. It doesn’t in the same with something unexpected happen…
“Setup” is a system that makes something happens properly.

There is no direct connection between setup and upset. But sometimes when we feel upset, we don’t want to use the proper setup to done something correctly.

If we are really mature, madness to something won’t make us mad with everything around us. We won’t look for something to blame. Though we are blaming someone or something, we will more attract to looking for the solver.

About Heaven

When I think about heaven…
It’s about the possibilities…
The people I love are not with me…
Or I’m not with people that I love…
Or I’m with them together in the heaven ^u^

But I believe there is no sadness in heaven…

Am I belonging in heaven? It’s not a good question… It shouldn’t be question, but it should be motivation.

In the ever after life, the end of the long road only two and they are heaven or hell. Of course I never want to go to the hell.

I’ve read the article about the beauty of heaven, it can’t be imagine by our minds. Its beauty never been seen by our eyes, never been heard by our ears, and never been touched by our hands…

I wonder why there are many people want to go to heaven but never want to learn how to go there. They don’t want to learn about Islam in the right theory and practice it in daily life. They have hundreds of reason to not going learn Islam. Even they want to, they looking for the speakers those can make them happy, justify their faults, and excuse the continuous faults their make…

Dear, heaven decorate with unlovely things…

Question from My Friend

It’s a Saturday morning in my high school mosque. I and my friend talk in English because we think our ability wasn’t great. We talk about so many things. But there is one thing I really remember.

She asked me, why did the women in Saudi can’t go without their man? Why did it really unsafe for women to walk alone without the man, their husband or their father or their brother or their uncle, beside them?

But in Indonesia, we are safe to walk alone to the campus in other town and we are safe to walk alone even without important goal, etc. As she know (and me too), Islamic condition is far better there in Saudi than in Indonesia.

I didn’t know the answer. I think it’s about the different culture. But I think, there are too many things to be concluded into one conclusion.

However, I think the men in Saudi and the men in Indonesia still the same, they love women. As we know too, the women still beautiful everywhere.

Dear, friend. You know who you are. Here’s my answer for you. I hope you love my answer.

In Saudi, to “attract” the men, Saudi’s women only have to go out without their man. They go with fully veiled even on their face; they don’t need to show what are forbidden to show.

But in Indonesia, to “attract” the men, women have to show a half of those are forbidden to show. Minimum, they show their hair. The men weren’t attracted anymore to the women with tidy closed cloth. They have to see more to be attracted… At least they have to see beautiful face though they love women with veil on their head.



It’s not a generalization for all men and women in Indonesia. It’s globally happen to every men and women.

What you see is what you want. Remember that. So, be careful when you looking at something…

Wednesday, August 08, 2007


It's a hope, it's a wish...
Bigger than any wishes...
Semua Muslim akan merindukan bulan Ramadhan...
Dan selalu berharap, semoga bukan ramadhan yang terakhir...

Pengen Nolong Malah...

Udah nalurinya manusia buat saling nolong...
Udah nalurinya manusia untuk minta tolong dan pengen ditolongin kalo lagi susah...
Lagian, Allah juga memerintahkan untuk saling tolong menolong...

Terinspirasi dari SMS seorang sahabat yang bingung balas budi sama ikhwan yang nolong dia untuk kenal manhaj salaf...
Ceritanya mirip sama ana... Bedanya, ana ditolong hampir 5 ikhwan, bahkan lebih untuk kenal manhaj salaf. Sayangnya, tidak termasuk kakak ana yang malah pilih jalan lain...

Beruntungnya (kata ana mah ini keberuntungan ^-^), temen ana ini ikhwannya udah siap nikah, tapi temen ananya yang malah belum siap...
Hehehe... Cuma itu cerita yang nggak sama dan terbalik dengan ana...
Ngerti kan...?

Dulu pun ana pusing bales budi gimana... Kalo sama satu orang, yang lain salah paham. Dan itulah yang sepertinya terjadi...

Di sini, kalo ada yang baca, kalopun nggak bukan masalah buat ana... Hanya ingin meluruskan salah paham... Kalo ada...

Makasih udah nolongin ana mengenal manhaj salaf, semoga kalian dapet apa yang lebih berharga dari unta merah... Maap kalo ada yang salah paham. Kalo kalian pernah ada yang merasa ana lebih perhatian sama yang lain, ana hanya merasa kalian udah punya orang lain yang nolong kalian. Kalian sama aja buat ana.

Semoga Allah memberi kalian yang terbaik... Karena ana nggak tau cara balas budi yang bener kecuali lewat 1 jalan tapi kayaknya belum ada yang siap tuh... ^o^

A Little Bit Disappointed

I’m a little bit disappointed with some of my own family…
I know I’d better not talk about it in the internet, but I still can’t forgive them…
I may forgive everything, except one…
They interrupted me on my praying…

They know I was stood on my praying. But they kept on made jokes. They laughed and that really makes me annoyed…
I may forgive every fault, though I may now say it and then forget it, but not with disturbing my praying…

Help me to forgive them, because I don’t want to…

Kadang Desperado…

Kadang ana jadi desperate, agak putus asa... Bukan putus asa deh, tapi buntu aja pikiran...
Mau usaha apa ya biar bisa bantuin ortu...
Walau ortu masih mampu biayain anak-anaknya, tapi tetep aja pengen bisa bantuin walau sedikit...
Walau cuma untuk diri sendiri...

Sekarang masalahnya modal, tapi kalopun ada modal mau usahain apa?
Masak belum bisa... Bisa sih, tapi nggak jago bumbu...
Lay-out ini itu, desain grafis, tapi belom ada juga yang ngasih kerjaan...
Mau jualan, jualan apa... Mau jualan buku, temen udah ada yang jual buku...
Jual minyak wangi, takut ntar dipake keluar rumah sama temen perempuan...
Mau jualan sembako, nggak minat...
Jualan pulsa? Nggak deh...
Pusiiiiing...

It’s true...
Mulai sesuatu adalah setengah dari pekerjaan...
Dan mulai berusaha adalah setengah dari punya usaha...
Huaaaaaa...

Still...

Still, I have a dream to be someone, the important one, but I prefer to be the good one, so everyone needs me…
Still, I want to be a good one, but I may do something wrong, I need other to remind me when I do wrong…
Still, I can’t accept what people talk about me sometimes, but I’m just a human and I keep thinking what people say to me, though I’m not show it…
Still, I want to be love and I want to feel love, but this life has been too verbally for me, so I can’t feel it until others declare it…
Still, I want to forgive everyone who faults me, but I’ll try to forgive my faults too…
Still, I really hope that my faults have been forgiven, but I’ll try to introspect myself…
Still, I want to ask one thing…

Man dzalladzii maa saa a qath?
Wa man lahu, lahul husna faqath?

Don’t see my faults from the magnifier lens (kaca pembesar bahasa Inggrisnya apa ya??)

Semoga apa yang ana usahakan bermanfaat bagi antum wa antunna...