Sunday, March 18, 2007

I'd Better

I’d better...
I’d better lost one of my friends than saw my friend in a different faith with me. I’d better lost one those I love so much than saw he/she in a different faith with me

Seseorang tidak akan diwafatkan...

Seseorang tidak akan diwafatkan kecuali telah habis rizkinya…

Khasiat Meninggalkan Musik

“Benar-benar akan terjadi dari ummatku sekelompok kaum yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, serta alat-alat musik.” (HR. Bukhari)

Dari dalil yang jelas ini, tentu bisa disimpulkan bagaimana hukum musik itu. Semoga Allah memberi kita hidayah untuk memahami dan melaksanakan hukum-Nya.

Alhamdulillah, setelah ketergantungan akut dan hampir membunuh jiwa, musik mulai hilang dari kamus kebutuhan hidup ana. Sungguh, musik hanyalah racun yang menipu perasaan. Rasa nyaman yang ada hanya kepalsuan, sugesti kosong. Musik dalam segala bungkusnya sama saja. Jika musik itu racun, ana tidak ingin memakannya walaupun ditumpahi segalon madu. Penyebutan adanya musik Islami adalah dusta yang dengan bodohnya pernah ana percayai!

Setelah berhenti menyengajakan diri mendengarkan musik dan berusaha semaksimal mungkin menutup telinga dari apa yang haram ini, ana merasa Allah lebih menguatkan hati ana. Hafalan ana lebih mudah masuk dan lebih sulit hilang, semua atas izin Allah.

Hati ana kini lebih tenang... Belajar pun lebih enak. Ketika mendengar musik lagi, kepala ini rasanya pusing!

Jika boleh ana menyesal, ana menyesali kebodohan ana di masa lalu. Namun ana bersyukur karena Allah masih memberi ana kesempatan meninggalkan kemunkaran ini di masa hidup ana yang entah berakhir kapan.

Hanya Allah yang menolong ana meninggalkan apa yang berbahaya bagi jiwa ini...

Sunday, March 04, 2007

We Are More Precious Than the Diamond

When you have a diamond, you’ll keep it in a tidy closed box. You won’t let any finger touches yours. You’re so afraid if that diamond scratched or lost.

Do you feel you’re more precious than the diamond?

If you do, I’m sure you’ll safe yourself behind the tidy closed clothes. You won’t let any finger touches you. You’re so afraid if yourself being scratched or wounded.

Yes…
We Are More Precious Than the Diamond

Merasa Nggak Sederajat...

Jujur, setelah kuliah, ana sering merasa strata sosial makin tergaris dengan tegas. Ada orang berpendidikan (yang nggak bosen-bosennya sekolah), ada orang kaya, dan kadang ana merasa nggak ingin berada dalam keduanya...

Waktu SMA, kadang ana merasa terbuang kalo temen-temen lagi belajar kelompok, lantaran sekolah ana adalah sekolah unggulan yang anaknya pinter-pinter. Alhamdulillah ana pun termasuk pinter tapi agak soliter. Harus belajar sendiri. Alhasil, jadilah ana orang bodoh ketika belajar bareng... Hiks...

Waktu temen-temen ngomongin soal ujian fisika atau kimia, paling mereka bilang, ”Yaa... gue salah ngitung...” Padahal saat itu ana bener-bener pengen bilang, ”Tadi itu soal apaan sih?” saking nggak ngertinya...

Pernah suatu hari ana mau patungan beli kado buat anaknya temen. Jujur aja, ana jarang banget kasih kado, gara-gara sering bokek. Saat itu ana patungan seorangnya hampir 15 ribu. Ya Allah... Salah ana ngajak orang kaya untuk patungan. Bukannya meringankan beban, malah milih barang-barang mahal untuk dijadiin kado dan biayanya dibagi rata, padahal rata-rata temen yang lain pun agak kesulitan uang. Saat itu ana takut banget jadi orang mubadzir.

Bagaimanapun, mungkin perasaan ini nggak perlu ana rasain. Ana pun sempet kecewa dengan seorang teman yang mengatakan bahwa orang berpendidikan itu pandangannya lebih luas. Allahu a’lam. Andai pun itu benar, ana kurang setuju jika hal itu disamakan dengan orang yang nggak berpendidikan pandangannya sempit.

Tiap orang diberi kesempatan yang berbeda. Ada yang pintar dan bisa terus belajar dan kuliah, ada yang pintar tapi nggak punya kesempatan kuliah, ada yang biasa aja tapi kesempatan kuliah terbuka lebar.

Begitu juga urusan rizki. Ada ditakdirkan Allah lahir di keluarga yang berkecukupan, ada yang ditakdirkan lahir di keluarga yang agak kurang sana sini, ada yang lahir dan cukup gizi, makanan bagus, orangtua berpendidikan, atau sebaliknya. Tapi itu semua bukan berarti seorang nggak bisa berubah. Jika Allah udah menakdirkan orang miskin jadi kaya, atau orang berpendidikan tiba-tiba nggak bisa berpikir sama sekali, atau sebaliknya, nggak ada yang bisa menghalangi!

Jadi... Buat orang-orang pintar, cendekiawan, orang kaya, tetaplah sederhana. Kaburkan garis strata. Jangan tegaskan perbedaan yang ada. Semoga kepintaran dan kekayaan anda semua bermanfaat untuk ummat Islam...

Dewasa

Kadang ana bingung dengan kata-kata ”dewasa”, kadang tuntutan untuk menjadi dewasa jadi beban tersendiri buat ana, apalagi orang bilang ana termasuk orang yang sikapnya kayak anak kecil. Nggak ngerti dimananya... Susah mendefinisikan dewasa itu apa. Mungkin secara umur, dewasa adalah usia setelah remaja.

Buat ana, dewasa itu suatu proses, bukan hasil. Setiap orang yang dewasa bukan berarti nggak pernah ketawa (serem amat orang yang nggak pernah ketawa lantaran pengen dianggap dewasa!). Dewasa adalah menerima karakter diri dengan memperbaiki apa yag kurang agar ideal sesuai dengan ketentuan Allah.

Proses pendewasaan adalah ketika segala pertimbangan kita didasarkan pada timbangan syar’i. Dewasa adalah ketika seorang bisa mengendalikan hawa nafsunya, tanpa membunuhnya atau membiarkannya liar.

Sebagai pribadi, kita nggak bisa menuntut seorang untuk bersikap dewasa dengan definisi dewasa menurut diri kita sendiri. Bahkan kita pun nggak berhak mengatakan bahwa kedewasaan telah ada pada diri kita. Tiap orang cengengesan bukan berarti tidak berpikir. Tiap orang yang diam belum tentu sedang berpikir. Allahu a’lam.

Jangan sampai mendefinisikan kedewasaan ini membuat kita lalai dari tugas utama, yaitu beribadah dengan ikhlash untuk Allah dan ittiba’ dengan apa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah Shalallaahu ’Alaihi Wasallam. Allahu musta’an...

Alhamdulillah...

Alhamdulillah, ana dapat kesempatan untuk ngetik lagi di blog ini. Semoga setiap posting yang ana kirim bermanfaat buat yang baca, entah siapapun itu...

Friday, February 23, 2007

Pelajaran dari Seorang Sahabat (Part 2)

Alhamdulillah, hari ini ana mendapat satu pelajaran yang berharga lagi. Hari itu ana mau pulang kuliah ke rumah. Ana lagi belajar pakai cadar. Ana bingung, ana tanya, "ntar kayanya deket rumah dilepas deh cadarnya..."

Lalu sahabat ana berkata, "Kenapa mesti dilepas?" ...

Alasan ana...orangtua belum mengizinkan. Subhanallah, dari sahabat ini ana mendapat satu dorongan yang luar biasa...

"Kalo kamu nggak salah kenapa mesti takut? Ini kan pilihan hidup kamu. Lagian kamu udah tau kenapa kamu harus pake. Jelasin aja sama orangtua kenapa kamu harus pake cadar."

Subhaanallaah... Hidayah Allah datang dari arah yang tidak dikira... Subhaanallaah...

Bener! Kalo kita tau kita bener, kita menjalankan sunnah, kita nggak menzhalimi orang, KENAPA TAKUT??? Bukankah Allah akan selalu menolong hamba yang berusaha mendekatkan diri pada-Nya?!

Allahu a'lam...

Sunday, February 18, 2007

Contoh COVER



Ini adalah contoh cover yang udah ana buat. Kalo ada yang minat nanti ana kirimin via e-mail beberapa contoh yang lain.

Saturday, February 17, 2007

Ikhlash Itu Sulit

Ikhlash itu Sulit.
Ikhlash itu Sulit.
Ikhlash itu Sulit.
Ikhlash itu Sulit.
Ikhlash itu Sulit.
Ikhlash itu Sulit.
Ikhlash itu Sulit.
Ikhlash itu Sulit.
Ikhlash itu Sulit.
Ikhlash itu Sulit.
Ikhlash itu Sulit.
Ikhlash itu Sulit.
Ikhlash itu Sulit.

Pengen Berhenti Kuliah!

Udah beberapa kali ane pengen banget berhenti kuliah. Kadang ane bingung, ngapain juga kuliah. Banyak orang yang udah menggugurkan kewajiban ane untuk duduk di bangku kuliah. Tapi udah keburu ngeluarin uang yang nggak sedikit. Ortu pun udah keburu berharap.

Seorang teman coba ngasih tau ane apa aja yang bisa bikin ane betah di kuliahan. Pertama sih dibilang bahwa ilmu yang ada di kuliahan ini bukan ilmu yang nggak berhubungan sama ilmu syar’i (walau kadang hubungannya cuma sekedar dihubung-hubungin doang- um)... Tapi ane nggak mendukung pernyataan itu. Alesannya, takut terlalu sibuk dengan ilmu dunia dan lupa dengan ilmu syar’i. Karena ilmu-ilmu itu kebanyakan merepotkan kecuali ilmu syar’i. Akhirnya, teman itu bilang... Kira-kira gini...

Semoga kuliah kita ini bermanfaat buat anak kita nanti. Kita ajarin mereka tauhid yang bener dari mereka kecil. Terus mereka kita ajarin ilmu dunia biar mereka bisa lebih bermanfaat bagi ummat... Semoga anak kita nanti jadi anak yang pinter ilmu syar’i dan pinter ilmu dunianya...

Semoga ane betah kuliah...

Ngamen

Mana yang lebih jahat, orang ngamen dikasih uang atau nggak dikasih uang? Ada satu pernyataan yang radikal (rada dikit nakal). “Yang jahat ya...yang ngasih duit. Abis kemaren ada yang jualan dalem bis, dia dapet duit lebih kecil dari yang ngamen...”

Tau nggak, walaupun kayak orang ngasal banget, itu ada benernya. Coba deh pikir yang panjang, apalagi buat yang udah rada tau seluk-beluk per-ngamen-an, especially anak kecil. Ketika kita ngasih uang, tu uang bukan buat dia. Dikasih sama bosnya. Okelah tu anak ntarnya dikasih makan. Tapi kalo kita ngasih lagi, berarti perputaran uang nggak berenti. Anak-anak itu bakal betah di jalan, atau dibetah-betahin...

Kalo kita ngasih uang, si bosnya bakal mikir, ini bisnis yang bagus. Tinggal tungguin anak kecil ngamen, dapet duit. Masya Allah...

Lagian, mereka diajarin musik. Musik kan cara orang non-Islam beribadah. Masa kita mau mendukung syi’ar agama lain?

Semoga Allah memberi jalan keluar yang baik...

Pelajaran dari Seorang Sahabat (Part 1)

Seorang menceritakan kepadaku tentang kesedihannya atas berbagai kegagalan yang harus ia hadapi hampir dalam waktu yang bersamaan. Namun, akhirnya ia berkata...

“Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah selama ini aku telah ikhlash dalam menuntut ‘ilmu syar’i ataupun amalan yang lain. Hari ini aku mendapat kenyataan bahwa apa yang aku khawatirkan mengganggu keikhlashanku, ternyata tidak aku peroleh. Semoga ini adalah jawaban yang terbaik bagiku bahwa setidaknya aku tidak menuntut ilmu atau beramal karena selain Allah. Namun, pagi harinya aku peroleh kabar bahwa keikhlashan itu tidak pernah berakhir. Harus selalu diperbaharui. Aku tidak tahu apa yang harus membuat aku sedih karena aku merasa Allah menghendaki kebaikan yang banyak untukku...”

Semoga ia mendapat yang terbaik...

Jangan Bersedih

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi ini dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kita (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Al Hadiid (57) : 22-23

Note: 'afwan tulisan 'arabnya sulit dicopy karena jadi terbalik-balik...

Don't Say "If Only"

Don’t you ever say “If only I…, I would…” That’s useless… What’s gone is gone.

You’ll never get back what you’ve lost, illaa bi idznillah… Be ikhlash

ADVERTISEMENT

Kalo lagi butuh DESAINER GRAFIS untuk merancang COVER buku/majalah yang mendukung tegaknya agama Islam berdasarkan pemahaman salafush shalih, atau PAMFLET kegiatan thalabul ‘ilmu syar’i dan semacamnya, call me via e-mail first. Harga tolong menolong.

Butuh dana untuk kuliah, masih butuh setidaknya 4 tahun lagi untuk selesai S1, untuk meringankan beban orangtua. Takut untuk cari beasiswa karena biasanya ada timbal baliknya.

Contoh rancangan cover (format .jpg) akan dikirim lewat e-mail. Mohon kasih alamat e-mail dan telepon lengkap ke
alif_nun@hotmail.com.

Semoga bermanfaat bagi ane dan antum.

Jazaakumullaah Khair...!

Ketika Sedih Melanda

Hidup itu nggak selamanya sedih. Pasti banyak saat kita bahagia dan kita tenang, nggak ada yang ganggu kita secara fisik dan mental. Ketika sedih melanda, jangan lupain kebahagiaan yang udah lewat. Jangan pernah bilang kebahagiaan nggak pernah muncul dalam kehidupan kita.

Allah lebih tau kadar kesanggupan kita dan semua ujian pasti bisa kita lewati, asal kita nggak lupa sama Allah.

Ketika sedih melanda, berdoalah semoga diri kita diliputi kesabaran yang banyak. Semoga Allah mengganti apa yang hilang dengan yang lebih baik. Yakinlah!

Kesyirikan di Sekitar Kita

Di sekitar kita masih banyak orang yang memakai jimat berupa gelang, kalung, dan semacamnya dengan i’tiqad (keyakinan) bahwa gelang itu atau suatu barang memiliki kekuatan tertentu untuk mencegah marabahaya atau penyakit tertentu. Orang yang menggantungkan tamimah (gelang atau kalung tersebut) maka Allah tidak akan mengabulkan permintaannya.

Jika seseorang memakainya dengan keyakinan bahwa gelang tersebut memberi manfaat dan menolak bahaya, maka ia telah berbuat syirik besar dan ia harus segera bertaubat. Jika ia meyakini bahwa jimat itu hanya sebagai wasilah (perantara) dan hakikatnya yang menyembuhkan tetaplah Allah, maka ia tetap melakukan syirik kecil, dan syirik kecil itu dosanya lebih besar dari dosa besar.

Hal yang seperti itu juga, ketika seseorang melihat burung gagak maka ia berkeyakinan bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk, atau kepercayaan bahwa angka 13 membawa sesuatu yang buruk, atau kepercayaan bahwa angka 6 bukan angka yang baik, atau semacamnya, itu pun termasuk syirik.

Itulah pentingnya tauhid dida’wahkan. Karena tanpa itu, seorang yang merasa dirinya baik, tetap saja amalannya tidak dihitung, karena amalannya tidak dilandasi ikhlash dan ittiba’.

Syirik jelas bukan perkara kecil. Adalah sesuatu yang bodoh menganggapnya hal kecil. Mari kita bersama mengobati penyakit kronis ini. Mintalah hanya kepada Allah dan berharaplah hanya kepada Allah...

Need Help to Sign Out

Sometimes we know something we do is not right. But there’s so much reason in our mind not to leave it. We feel that people need us and we are really means a lot to everyone that walk together with us.

That’s good thought. But, when you know the way you walk in is not right, why did you have to still walk on that way? If you know that way is wrong way, will you follow people or being followed by people? Do you really want to take the responsibility that actually you don’t need to take?!

If you still can’t go out of the absolute wrong way, that means, you need help to sign out. You have to say, “It’s enough!” and change your direction to the right way.

Sunday, February 04, 2007

Why Ummu Maryam?

Hehehe... Entah kenapa ane jadi pengen pake nama ini untuk blog ini. Mungkin udah rada telat karena dulu sempet pake nama asli ane. Alesan pertama, malu aja kalo ana pake nama asli. Walaupun belum nikah, apalagi punya anak namanya Maryam, nama Ummu Maryam kayanya baguuus banget. Ane juga jatuh cinta sama surah 19 (Maryam)...

Tadinya pengen pake nama Ummu ‘Afifah. Tapi seorang teman udah punya anak namanya ‘Afifah. Ya udah, pake nama Ummu Maryam aja. Ntar kalo udah nikah trus punya anak perempuan, mau dikasih nama “Maryam”...

Semoga apa yang ana usahakan bermanfaat bagi antum wa antunna...